BANYUMAS — Sosok polisi identik dengan kesibukan tanpa jeda. Mulai dari apel pagi, sambang desa, rapat koordinasi kecamatan, hingga panggilan mendadak dari pimpinan menjadi rutinitas sehari-hari. Namun di balik padatnya tugas itu, Kapolsek Banyumas AKP Sudiono punya cara unik menjaga keseimbangan hidup: beternak dan bertani di lingkungan Mapolsek Banyumas.
Di lahan Mapolsek yang luasnya mencapai lebih dari satu hektare, AKP Sudiono mengembangkan berbagai jenis peternakan dan pertanian. Mulai dari kambing, ayam, bebek, mentok, hingga budidaya ikan lele, semuanya dirawat langsung di sela-sela kesibukan dinas.
Baginya, aktivitas tersebut bukan sekadar hobi sampingan, tetapi bagian dari cara menjaga kesehatan fisik dan mental agar tetap prima saat menjalankan tugas kepolisian.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tekanan Tugas
AKP Sudiono mengaku ketertarikannya pada dunia ternak berawal dari kecintaannya terhadap hewan dan proses alam. Ia menikmati setiap tahapan perkembangan ternak yang dipeliharanya.
“Awalnya karena saya penyuka binatang dan penikmat proses. Mengatur waktu antara dinas dan ternak saya anggap sebagai kenikmatan. Otak dan tubuh jadi tetap terlatih dan saya merasakan manfaatnya,” ujar Sudiono.
Disiplin yang biasa diterapkan dalam tugas kepolisian juga ia gunakan dalam mengatur aktivitas pribadi. Setelah menyelesaikan pekerjaan dinas, ia menyisihkan waktu khusus untuk mengurus ternak dan lahan pertanian.
Rutinitas itu justru membuatnya merasa lebih bugar meski usia terus bertambah.
Lahan Mapolsek Disulap Jadi Area Produktif
Tidak hanya fokus pada peternakan, AKP Sudiono juga memanfaatkan lahan kosong di area Mapolsek untuk menanam berbagai tanaman pakan ternak. Rumput Odot, ketela pohon, hingga tanaman pakan jenis Papua ditanam sebagai sumber makanan bagi kambing dan ternak ruminansia lainnya.
Sementara untuk unggas seperti ayam, bebek, dan mentok, ia menerapkan pola pemanfaatan limbah makanan rumah tangga. Sisa nasi, sayuran, dan dedak diolah menjadi pakan tambahan yang dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan.
Pendekatan tersebut membuat aktivitas ternaknya berjalan efisien tanpa bergantung penuh pada pakan pabrikan.
Lebaran Tak Lagi Bergantung Pasar
Hasil dari aktivitas peternakan itu bahkan dirasakan langsung dalam kebutuhan keluarga sehari-hari. Saat Hari Raya Idulfitri, AKP Sudiono mengaku tidak perlu membeli ayam maupun daging dari pasar.
“Saat Lebaran, sekitar sembilan ekor ternak bisa digunakan sehingga tidak perlu membeli ke pasar,” katanya.
Menurutnya, manfaat ekonomi dari beternak cukup terasa karena mampu menekan pengeluaran rumah tangga, sekaligus menjadi investasi jangka panjang.
Polisi yang Produktif di Luar Dinas
Di tengah citra aparat yang identik dengan tugas formal dan tekanan pekerjaan tinggi, AKP Sudiono menunjukkan sisi lain seorang polisi. Ia membuktikan bahwa produktivitas tidak harus berhenti setelah jam dinas selesai.
Kisahnya menjadi gambaran bahwa lahan kosong di sekitar lingkungan kerja maupun rumah bisa dimanfaatkan secara maksimal. Di saat banyak orang menganggap beternak membutuhkan waktu penuh, Sudiono justru berhasil menjalankannya berdampingan dengan tanggung jawab sebagai pimpinan kepolisian sektor.
Bagi AKP Sudiono, menjaga kesehatan mental dan fisik sama pentingnya dengan menjaga keamanan wilayah.
“Mengatur waktu antara dinas dan ternak adalah kenikmatan. Otak dan tubuh tetap terlatih. Aktivitas ini membantu menjaga kebugaran meski usia bertambah,” tuturnya.



