CTVPURWOKERTO - Di sebuah rumah sederhana di Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Ibu Soleha tekun merajut benang demi benang hingga membentuk gambar masjid yang indah. Aktivitas yang bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai hobi ternyata menyimpan pesan yang lebih dalam, terutama di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini.
Di saat masyarakat modern semakin akrab dengan budaya konsumsi cepat atau fast consumption, karya rajut buatan tangan justru menawarkan nilai yang berlawanan: kesabaran, ketahanan, dan keberlanjutan.
"Kalau pekerjaan rumah selesai, saya merajut. Daripada waktu luang dipakai untuk hal yang tidak bermanfaat," ujar Soleha, warga RT 07 RW 03 Desa Karangrau.
Satu karya rajut bermotif masjid yang dibuatnya membutuhkan waktu hingga satu bulan. Dengan menggunakan lebih dari 20 warna benang, ia menyusun pola demi pola secara teliti hingga menghasilkan hiasan dinding yang bernilai seni tinggi.
Melawan Budaya Sekali Pakai
Di balik kesederhanaan aktivitas merajut, terdapat filosofi yang selaras dengan gerakan pelestarian lingkungan. Produk kerajinan tangan cenderung memiliki usia pakai lebih panjang dibanding barang dekorasi murah yang diproduksi secara massal.
Pakar lingkungan menyebut salah satu penyebab meningkatnya limbah rumah tangga adalah budaya membeli barang murah yang cepat rusak dan mudah dibuang. Akibatnya, volume sampah terus bertambah, sementara kemampuan lingkungan untuk mengelolanya semakin terbatas.
Karya rajut seperti yang dibuat Soleha menghadirkan konsep berbeda. Sebuah hiasan dinding hasil rajutan dapat bertahan bertahun-tahun bahkan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks ini, kerajinan tangan menjadi bagian dari gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle) yang kini banyak didorong di berbagai negara sebagai respons terhadap perubahan iklim.
Aktivitas Rendah Emisi dari Dalam Rumah
Perubahan iklim sebagian besar dipicu oleh emisi gas rumah kaca yang berasal dari industri, transportasi, dan pola konsumsi manusia. Meski terlihat sederhana, aktivitas merajut termasuk kegiatan kreatif yang memiliki jejak karbon relatif rendah.
Berbeda dengan produk dekorasi pabrikan yang harus melalui proses produksi besar, pengemasan, hingga distribusi jarak jauh, karya rajut rumahan dapat dibuat dengan peralatan sederhana dan energi yang minim.
"Kerajinan seperti ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak selalu harus menghasilkan dampak lingkungan yang besar," ujar seorang pegiat lingkungan di Banyumas.
Jika dikembangkan menggunakan bahan daur ulang atau benang ramah lingkungan, kerajinan rajut bahkan dapat menjadi bagian dari ekonomi hijau yang kini mulai diperkenalkan di berbagai daerah.
Menjaga Kesehatan Mental di Era Krisis Iklim
Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan secara fisik melalui cuaca ekstrem, banjir, atau kekeringan. Berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya fenomena climate anxiety atau kecemasan terhadap masa depan lingkungan.
Aktivitas kreatif seperti merajut diyakini dapat membantu menjaga kesehatan mental karena melatih fokus, kesabaran, dan ketenangan.
Bagi Soleha, kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk mengisi waktu dengan hal positif sekaligus mengurangi kejenuhan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Tanpa disadari, aktivitas yang dilakukan di sudut rumah itu menjadi bentuk adaptasi sosial yang penting di tengah tekanan kehidupan modern.
Potensi Pemberdayaan dan Ekonomi Hijau Desa
Banyumas memiliki potensi besar mengembangkan kerajinan tangan berbasis masyarakat sebagai bagian dari ekonomi kreatif dan ekonomi hijau. Produk-produk rajut bernilai seni tinggi dapat dipasarkan sebagai suvenir wisata maupun produk unggulan desa.
Selain membuka peluang tambahan pendapatan bagi keluarga, pengembangan kerajinan lokal juga membantu mengurangi ketergantungan pada produk impor dan barang pabrikan yang memiliki jejak karbon lebih tinggi.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan global, kisah Ibu Soleha menunjukkan bahwa solusi tidak selalu lahir dari teknologi canggih atau proyek berskala besar. Kadang, perubahan dimulai dari rumah, dari tangan seorang ibu yang dengan sabar merajut benang menjadi karya.
Rajutannya bukan sekadar hiasan dinding bermotif masjid. Ia menjadi simbol bagaimana kreativitas, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.
Di saat dunia berbicara tentang pengurangan emisi dan keberlanjutan, Ibu Soleha telah mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya: menghasilkan karya yang tahan lama, minim limbah, dan penuh makna.

.jpg)

